Aku dan Dunia Baruku


Aku Dan Dunia Baruku
Tidak seperti bisanya, kali ini ada yang berbeda. Masih hangat di kepalaku, 7 November 2016, ya pertama akli aku masuk disebuh SLB. Kalau hanya sekedar berkunjung mungkin ini sudah kali keberapa saya mengunjungi SLB, tapi kali ini saya datang untuk menjadi seorang pendidik.
Terdengar aneh untuk saya, saya tidak pernah merasa bahwa saya pantas menjadi seorang pendidik. Karena saya sadar betul kelakuan saya yang masih sering ngegig sana sini dan sampai sekarang masih saya lakukan. Tingkah saya yang mungkin jauh dari kata pendidik. Membuat saya merasa lebih seperti anak urakan.
Saya masuk kedalam lingkungan baru dan agak asing bagi saya, SLB Muhammadiyah Surya Gemilang. Dulu namanya masih SDLB belum menjadi SLB. Saya datang pagi dengan baju hitam putih ala-ala anak PPL. Geli rasanya kenapa saya tidak pakai baju biasa saja ya? Wkwkwkwk. Saya adalah lulusan dari Universitas swasta di Surakarta, dan background saya bukanlah dari PLB, saya seorang lulusan Pendidikan Matematika.
Pertama kali saya datang saya diminta untuk mengampu anak SMPLB. Dengan latar belakang saya sebagi guru maple a.k.a mata pelajaran, sekarang saya harus mengampu kelas dan menjadi guru kelas. Sumpahhh… gak ada gambaran apa-apa. Mana lagi di sekolahan bukunya belum ada. Ketika minta materi sebelumnya apa, kalian tau jawabannya apa? Yaudah kasih yang gampang-gampang dulu. Pengen nangis rasanya. Akhrnya bermodalkan KI-KD, ku carilah materi dari google. Thankyou Google, sangat sangat membantuku.
Saat itu pun sudah menggunakan kurikulum K13, tapi belum ada modul yang dapat saya pakai,karena disekolahan belum ada. Makin-makin setres lah saya. Rasnya saya ingin angkat tangan dari kemumetan yang saya rasakan. Saya tidak tahu kemampuan siswa saya, saya gak tau harus ngisi apa, soft file buku saya tidak punya.
Melihat kondisi anak-anak yang usianya sudah hampir sama dengan saya dan masih di bangku SMPLB kelas 7, terusterang saya merasa aneh. Yaa, saya tidak biasa melihat hal-hal semacam ini. Murid dan guru sebaya, kita hanya selisih 4 tahun.
Hari berikutnya saya berada di SLB ada salah satu murid kelas saya, yaitu Mukaromah. Mukaromah  bilang “Bu, nanti kalau Nisa jatuh gak usah ditolongin” dan saya iya iya saja, toh saya juga belum tahu Nisa itu yang mana. Ternyata Nisa ini adalah anak C1 yang punya penyakit seperti epilepsy. Anak-anak suka bilang “Nisa kumat bu” itu yang mereka ucapkan saat si nisa jatuh. Dan ternyata si Mukaromah ini sedang jengkel sama si Nisa. Karenanya dia kasih tau saya untuk tidak menolong Nisa. Entah apa penyebabnya.
Benar saja saat istirahat si Nisa ini jatuh dan semua guru mencoba menolong, dalam hati ngomong.. wahh baru masuk udah hampir kena tipu aja. Saat Nisa jatuh bukan guru-guru saja yang mencoba menolong bahkan anak-anak yang lain juga menolong. Entah hanya sekedar berteriak memanggil guru karena ada teman yang jatuh, atau hanya sekedar melihat. Namun dari sana terlihat bahwa rasa peduli mereka sangat besar. Dari situ saya belajar banyak pengalaman dari lingkungan baru saya, ada banyak hal yang belum saya ketahui, dan saya harus banyak belajar lagi.
Belajar memahami keinginan dan kebutuhan anak-anak saya, belajar memahami keadaan anak-anak saya, bagaiman asaya bias menolong mereka mulai dari hal sederhana, hingga menolong hal-hal kompleks.
Di SLB saya banyak diajarkan tentang rasa syukur, dimana saya sangat beruntung dibandingkan anak-anak saya yang ada di SLB. Saya dapat berjalan denagn baik, berbicara dengan baik, melihat dan mendengar dengan baik.


Komentar